6 Penyakit Yang Sering Menyerang Kelinci dan Cara Pengobatannya

By | Januari 22, 2020

Kelinci merupakan hewan berusus satu. Wajar saja kelinci sering disebut dengan hewan “tidak beres pencernaan”. Ketika perut kelinci sakit kelinci tidak bisa muntah sehingga satu jalur pakannya (ususnya) terkena beban berat. Alhasil, akan menyebabkan kelinci kembung, diare, dan mencret.

Adapun ciri-ciri kelinci yang sedang sakit antara lain : mata sayu, lesu, tidak nafsu makan, dan kotoranya cair atau lengket berwarna coklat hijau jelly. Untuk mengatasinya Anda hanya perlu mengganti pakannya dengan pelet dan rumput keirng timothy, Berikan juga daun pepaya kering, papras pohon pisang atau daun mbambu muda untuk menetralkan cairan dalam perut kelinci.

Berikut ini beberapa penyakit yang sering meyerang kelinci :

1.Kudis

Kudis (mange) Kudis pada kelinci umumnya disebabkan oleh tungau Psoroptes cuniculi, Chorioptes cuniculi, Notoedres cati, dan Sarcoptes scabiei, juga kutu Haemodipsus ventricosus.
Berdasarkan lokasi, penyebab, dan tanda-tanda klinis dibedakan:

Kudis di telinga

Penyebabnya adalah tungau Psoroptes cuniculi dan atau Chorioptes cuniculi. Tungau ini memulai serangannya di dasar rambut liang telinga, parasit mengisap cairan kulit, membentuk lepuh-lepuh berisi cairan yang apabila pecah menimbulkan kegatalan.

Dengan tanda-tanda klinis kelinci selalu menggoyanggoyangkan kepala, menggaruk-garuk daun telinga mengakibatkan lepuh akan pecah, sering disertai infeksi sekunder lama kelamaan timbul keropeng-keropeng hal ini dapat menyumbat liang telinga bila dibiarkan akan menimbulkan meningitis ditandai dengan kepala berputar (torticolis), gerak-gerakannya tidak terkontrol (ataxia) dan akhirnya mati.

Kudis kulit

Tungau ini mulai menyerang sekitar mata, pipi, hidung, kepala, jari kaki kemudian meluas ke seluruh permukaan tubuh. Penyebabnya Sarcoptes scabiei dan Notoedres cati juga kutu Haemodipsus ventricosus.

Pada infestasi S. scabiei dan N. cati memperlihatkan gejala:

Kelinci menggaruk-garuk terus sehingga bulu muka, kepala, pangkal telinga, sekeliling mata dan kaki rontok. Pada infestasi berat, kulit di sekeliling telinga dan hidung dapat berubah bentuk. Tungau ini cepat menyebar ke seluruh koloni kelinci. S. scabiei dapat menginfestasi ke manusia karena bersifat zoonosis, jika menyerang sudut mulut kelinci maka kelinci sulit makan sehingga menimbulkan kematian.

Pengobatan dan pengendalian kudis

Peninggalan sejarah menunjukkan bahwa kudis dan cara pengobatannya telah dikenal sejak kira-kira tiga ribu tahun yang lalu. Penyakit kudis pada kelinci dapat disembuhkan dengan Neguvon 0,15% dan Asuntol 0,05–0,2% . Salep Asuntol 0,1% dapat menyembuhkan scabies pada kelinci.
Kelinci yang kena infestasi tungau harus diasingkan dan diobati campuran belerang dengan kapur 5 berbanding 3 atau Pirantel pamoat (Canex) dicampur vaselin.

Bisa diobati Ivermectin dengan dosis 0,2 mg/kg berat badan diberikan sub kutan dengan selang waktu 7 hari. Kudis pada liang telinga dibersihkan dengan H2O2 3%, keropeng-keropeng dibuang, tetesi dengan tetes telinga yang dicampur antibiotik dan fungisida

Dalam melakukan pencegahan dan pengendalian penyakit kudis perlu diperhatikan pola hidup, sanitasi, pemindahan kelinci, karantina, dan pengobatan. Pola dan kebiasaan hidup yang kurang bersih dan kurang benar memungkinkan berlangsungnya siklus hidup tungau (S. scabiei) dengan baik.

Sanitasi termasuk kualitas penyediaan air yang kurang dan ternak yang terlalu padat perlu dihindari. Pemindahan hewan dari satu tempat ke tempat lain perlu penanganan yang serius. Perlu diperhatikan Surat Keputusan Menteri Pertanian no. 422/kpts/LB-720/6/1988 yaitu peraturan karantina tentang penyakit kudis yang menyatakan bahwa penyakit kudis, skabies, mange dan demodekosis termasuk penyakit golongan 2 nomor 51. Hewan yang peka adalah ruminansia, kuda, babi, dan kelinci dengan masa inkubasi 14 hari, lama hewan di karantina 14–30 hari.

Setiap hewan tersangka skabies harus diisolasi dan diobati. Jika ada hewan terkena skabies, sebelum memulai terapi sebaiknya peternak diberi penjelasan yang lengkap mengenai penyakit dan cara pengobatannya, sehingga dapat meningkatkan keberhasilan terapi.

Mengingat masa inkubasi yang lama, maka semua ternak kelinci yang berkontak dengan hewan penderita perlu diobati meskipun tidak ada gejala klinis atau hewan penderita diisolasi. Hewan penderita yang berada di tengah keluarga sulit untuk diisolasi. Pakaian yang dicurigai harus dicuci dengan air panas atau disetrika, alat rumah tangga dan kandang juga harus dibersihkan, meskipun tungau tidak lama bertahan hidup di luar kulit hewan maupun manusia. Penyakit ini sering dikacaukan dengan Ringworms dan Pavus.

2. Koksidiosis

Pada kelinci terdapat dua bentuk koksidiosis yaitu bentuk hati disebabkan oleh Eimeria stidae dan bentuk usus disebabkan oleh E. magna, E. media, E. irresidua atau E. perforans. Eimeria spp lain jarang ditemukan di usus kelinci.

siklus penyakit koksida

Hewan yang sudah sembuh dari penyakit ini sering menjadi karier. Berbagai bentuk koksidiosis tersebut tidak selalu menimbulkan gejala mencret. Penyakit bisa tanpa memperlihatkan gejala, atau kematian dapat terjadi hanya sesudah beberapa hari setelah infestasi. Kelinci muda lebih sering terjadi terkena oleh koksidiosis bentuk hati dengan gejala-gejala berupa mencret, nafsu makan hilang, dan bulu kasar.

Kelinci tidak tumbuh normal, badan kurus dan tidak tampak sehat. Pada bentuk usus, gejala biasanya tumbuh lambat, nafsu makan hilang dan perut kelihatan buncit. Diagnosis dapat dibuat dengan identifikasi ookista pada pemeriksaan tinja atau dengan pemeriksaan histopatologi usus dan hati. Pada pemeriksaan pascamati. Lesi koksidiosis disebabkan oleh E. stiedae menunjukkan bintik-bintik putih atau kista di hati.

Pada kasus akut, lesi ini mempunyai tepi jelas tetapi kemudian lesi akan bergabung satu sama lain pada kasus kronis. Pada pemeriksaan histopatologik bintik-bintik tersebut tampak hiperplasia saluran empedu dan banyak ditemukan ookista. Lesi pada bentuk usus bervariasi, kasus akut jarang memperlihatkan lesi, sedang kasus kronis tampak usus menebal dan pucat.

Koksidiosis dapat dikendalikan dengan pengelolaan koloni hewan yang baik dan mengobati kelinci dengan 0,05% Sulfakuinoksalin dalam air minum selama 30 hari. Bisa juga Amprolium 30–250 mg/kg pakan. Nitrofurason dapat dipakai dengan dosis 0,5–2,0 g/kg berat badan untuk pengobatan, atau 0,5–1,0 g/kg untuk pencegahan koksidiosis usus Eimeria sp ini tidak dapat menginfeksi manusia. Penyakit ini dapat dikacaukan dengan Enteritis, Diare, Bloat atau Kembung perut (Timpani).

Pasteurellosis (Haemorrhagic septicaemia) Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Pasteurella multocida. Nama lain adalah Bacterium leptiseptica, Bacillus leptiseptica, Pasteurella leptiseptica dan Pasteurella septica. Penyakit ini sering ditemukan dalam koloni kelinci laboratorium dan sangat menular.

Pasteurellosis dapat menyebar secara langsung jika kelinci sehat kontak dengan yang sakit atau tidak langsung yaitu kelinci sehat dipindahkan ke kandang penderita tanpa di sterilisasi. Pada kelinci sering menimbulkan

kekebalan ringan sesudah kelinci terinfeksi. Beberapa hewan dapat menjadi karier meskipun tampak sehat, dan mungkin hewan ini menjadi sumber infeksi dalam koloni kelinci.
Penyakit ini biasanya bersifat kronik dengan gejala ke luar eksudat encer atau nanah dari hidung dan mata. Bulu kaki depan terutama di sekeliling kuku tampak kusut dan banyak eksudat kering. Kadang-kadang disertai pneumonia, pyometra, orchitis, otitis media, conjunctivitis, subcutaneus abces dan septicemia.

Kelinci yang sakit biasanya bersin dan batuk bisa diakhiri dengan kematian. Dalam bentuk akut, kelinci sakit tiba-tiba mati. Jika kelinci sembuh bisa sebagai karier.

Diagnosis penyakit

Penyakit ini dapat diagnosis dengan isolasi dan identifikasi bakteri dari paru-paru kelinci sakit Jika diadakan pemeriksaan pascamati, ditemukan radang akut sampai kronik di selaput lendir saluran pernapasan dan paruparu. Biasanya lesi disertai rinitis, sinusitis, otitis, meningitis dan bronkhopneumonia.

Abses dapat ditemukan di tubuh kelinci terutama di kepala. Dalam keadaan akut terjadi septisemia biasanya kelinci mati dalam waktu 48 jam. Pemeriksaan pascamati pada bentuk akut tampak kongesti pembuluh darah sistim pernapasan, trakeaitis, kelenjar pertahanan membesar dan perdarahan di bawah kulit.

Hewan yang terinfeksi P. multocida sebaiknya dibinasakan biasanya diobati tidak akan berhasil. Seluruh kandang dan kamar kelinci juga peralatannya harus disterilkan. Penyakit ini bisa menular ke manusia, tetapi sangat menular ke kelinci lain dan hewan percobaan lain.

3. Mucoid enteritis (ME)

Penyakit ini menimbulkan radang usus dengan mortalitas yang tinggi terutama menyerang kelinci umur 7–10 minggu. Penyebabnya belum bisa dipastikan. Beberapa bakteri bisa diisolasi dari kelinci penderita yaitu Coliform bacilli dan anaerobic bacteria, juga virus dan koksidia.

Gejala-gejala ME adalah napsu makan hilang, polidipsia (banyak minum) dan suhu badan di bawah normal (37–38°C). Kelinci kelihatan depresi dengan sikap merangkakrangkak dan bulu kasar, mencret, kurus, lambung menggembung, usus kecil dan usus besar menggembung isinya gas dan cairan usus. Kulit disekitar anus kotor dengan lendir atau tunja kuning dan cair.

Pada pemeriksaan pascamati, tidak ditemukan lesi yang jelas. Lambung dan usus biasanya banyak ditemukan gas dan cairan, juga bisa isi sekum gas dan kering, kolon berisi lendir yang kental dan jernih, katong empedu membesar. Pemeriksaan histopatologis pada usus kecil banyak ditemukan hiperplasia sel goblet.

Diagnosis penyakit ME

Dengan melihat gejala klinis yaitu dehidrasi, mencret berlendir, perut kembung dan pemeriksaan pascamati. Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ME Dapat dicoba dengan antibiotik agar tidak terjadi infeksi bakteri, juga diberi rumput kering dalam ransum yang bergizi. Penyakit ini tidak menular ke manusia.

4. Penyakit Tyzzer

Penyakit ini disebabkan oleh Bacillus piliformis. Penyakit jarang terjadi pada koloni kelinci, kadang-kadang dikacaukan dengan penyakit ME. Sebagai paktor disposisi timbul penyakit ini yaitu stres.

Gejala penyakit yaitu diare, dehidrasi dan kematian yang cepat, biasanya dalam 24–48 jam. Morbiditas dan mortalitas yang tinggi, lebih dari 50% koloni kelinci menderita sakit dan lebih dari 90% kelinci yang sakit dapat mati. Kelinci yang bertahan hidup tumbuhnya lambat dan nafsu makan menurun.

Pada pemeriksaan pascamati mukosa usus kecil dan usus besar berkaca-kaca tandanya ada peradangan dan ditemukan perdarahan berbintik. Pada hati sering ditemukan masa foki pucat sebesar kepala jarum pentul. Pada pemeriksaan histopatologis tampak nekrosis berat di mukosa epitel usus besar khususnya di sekum.

Dengan pewarnaan khusus, yaitu Giemsa atau Periodic acid Schiff, dapat dilihat kumpulan organisme berbentuk filamen, terutama dalam sel epitel usus yang tidak berlesi. Pada hati ditemukan banyak fokal nekrotik, dan di tepi lesi dapat ditemukan kumpulan organisme dalam sel.

Diagnosis penyakit

Penyebab penyakit dapat ditemukan pada organ usus atau hati dengan cara mengisolasi bakteri dengan cara in ovo yaitu menyuntikan ke dalam kuning telur ayam tertunas.

Pengobatan

Penyakit Tyzerr sulit untuk diobati. Kalau penyakit ini menyerang koloni kelinci, seluruh koloni kelinci harus dibinasakan dan memulai koloni baru dengan kelinci yang bebas dari penyakit ini. Koloni baru ini harus ditempatkan dalam gedung terisolasi dari koloni mencit, hewan mencit lebih mudah tertular penyakit Tyzerr. Penyakit ini tidak bersifat zoonosis Sifilis

Penyakit ini disebabkan oleh Treponema cuniculi dan sering ditemukan dalam koloni kelinci yang higienenya sangat jelek. Kedua jenis kelamin kelinci ini dapat terinfeksi pada saat kopulasi.
Gejala klinis bulu disekitar kemaluan luar rontok dan berbintik-bintik seperti kudisan. Kelinci sakit tidak boleh dikawinkan.

Pengobatan mengunakan antibiotik seperti penisilin 50.000 unit tiap hari sampai sembuh (10–14 hari). Kelinci yang sembuh tidak bersifat karier dan bisa dikawinkan lagi. Penyakit ini tidak menular ke manusia

5. Mastitis (radang ambing)

Penyakit ini disebabkan Staphylococus sp, biasanya menyerang kelinci yang menyusui terutama kelinci ras. Gejala klinis bagian putting susu membengkak dan mengeras berwarna merah muda. Bila diraba terasa panas dan keras, jika tidak diobati warna kulit sekitar putting susu berwarna gelap kemudian pecah.

Pencegahan: lingkungan kandang harus tenang jauh dari kebisingan agar induk tidak gelisah. Penyapihan jangan dilakukan mendadak dan cukup waktunya, periode sapih antara 40–45 hari. Induk yang sedang menyusui jangan dipindah tempat dari kandang saat melahirkan agar tidak stres. Penyakit ini tidak menular ke manusia.

6. Conjunctivitis (radang mata)

Penyakit mata ini penyebabnya Moraxella sp. Tanda-tanda penyakit yaitu mata merah dan mengeluarkan cairan (eksudat) pernah di laporkan. Pengobatannya dengan pemberian Sulfathiazole 5% Opthalmia Ointment, Salep mata yang mengandung antibiotik.

Sumber :

http://blog.ub.ac.id/amikspz/files/2013/05/jurnal2.pdf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.